Tampilkan postingan dengan label Budaya Melayu Jambi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Melayu Jambi. Tampilkan semua postingan
| Komp. Rumah Tuo Tanah Periuk Sebagai Tempat Awal Mula Peradaban Tanah Sepenggal |
Berikut adalah sejarah leluhur marga Tanah Sepenggal
Saat Kesultanan Mataram berperang dengan Belanda, keluarga kerajaan terpecah menjadi dua. Keluarga yang pro Belanda dan menentang belanda. Sri Mangkubumi adalah kelompok yang menentang belanda. Oleh karena situasi yang tidak memungkinkan, maka Sri Mangkubumi mengadakan Musyawarah. Hasil musyawarah tersebut diputuskan mereka harus meninggalkan kerajaan Mataram menuju Sumatra. Bersama dengan pengikutnya yang setia maka Sri Mangkubumi menyiapkan perbekalan secukupnya. Dalam perjalanan tersebut rombongan terdiri dari lebih kurang 40 kepala keluarga. Tujuan perjalanan tersebut adalah Kesultanan Jambi.
Kesultanan Jambi memang sudah lama menjalin kerjasama baik dengan kerajaan di Pulau Jawa. Hal ini diceritakan pula dalam Legenda Rangkayo Hitam. Dikisahkan pula bahwa Rangkayo Hitam sempat mempersunting salah satu putri kerajaan di Tanah Jawa.
Kepala keluarga tersebut masuk kedalam Jung atau Penjalang, jenis kapal layar tradisional yang dipakai oleh kerajaan-kerajaan masa lampau. Rombongan tersebut singgah di Pelabuhan Sabak, dekat Pulau Berhala, Kesultanan Jambi, daerah Tanjung Jabung saat ini.
Setelah beristirahat, rombongan tersebut menemui Sultan Jambi di Pusat kerajaan yang telah berada di Kota Jambi. Konon Sultan Jambi mempunyai Istri dari Kesultanan Mataram. Di Jambi rombongan Mataram bertemu dengan Debalang raja Jambi yang bertugas menyambut kedatangan rombongan tersebut. Sultan/ Raja Jambi tidak percaya begitu saja terhadap rombongan tersebut terutama istri raja jambi yang juga keturunan Mataram. Untuk meyakinkan, maka Sri Mangkubumi mengeluarkan Gupil yang bertuliskan aksara jawa. Sri Mangkubumi hanya memiliki 2/3 bagian gupil karena selebihnya disimpan oleh istri Sultan Jambi yang konon bernama "Ayunan Tunggal". Setelah dicocokkan kedua gupil tersebut maka barulah rombongan tersebut dipercayai sebagai rombongan keluarga Kesultanan Mataram.Adanya bukti hubungan kekeluargaan tersebut menyebabkan rombongan mataram dilayani oleh kesultanan Jambi secara khusus, dengan senang hati.
Tidak beberapa lama rombongan beristirahat di Pusat Kesultanan Jambi, akhirnya rombongan diberi kuasa untuk mengambil wilayah dari Muara Sungai Tembesi hingga ke barat daerah Kesultanan Jambi yang berbatasan dengan Kerajaan Pagaruyung, Sumatera Barat. Rombongan tersebut diiringi oleh beberapa orang utusan Kesultanan Jambi sebagai penunjuk jalan. Perjalanan diputuskan lewat air dengan menyusuuri Sungai Batanghari dan diteruskan masuk ke Sungai Batangtebo terus menyusuri hingga ke hulu sungai. Perjalanan melelahkan tersebut memakan waktu yang cukup lama.
Perjalanan panjang tersebut menghantarkan rombongan pada daerah seperti Teluk yang bentuknya berkelok seperti meringkuknya kucing yang sedang tidur. Diseberang teluk tersebut terlihat daratan yang disinari rembulan. Untuk mengingat tempat tersebut rombongan menamai daerah tersebut Pulau Sri Bulan dan Teluk Kucing Tidur
Rombongan tersebut menepi dan naik ke daratan. Disanalah mereka memutuskan untuk menetap dan mendirikan pemukiman. Mereka membuat rumah besar yang dikenal dengan sebutan Balai Panjang yang kemudian ditetapkan menjadi nama daerah tersebut Balai Panjang (Desa Tanah Periuk hari ini). Sri Mangkubumi sendiri memutuskan tidak melanjutkan perjalanan itu dan menetap di Balai Panjang.
Setelah menetap sekian lama di Balai Panjang, diantara anggota rombongan tersebut ada pula yang memutuskan tetap melanjutkan perjalanan ke hulu sungai, mencari wilayah baru untuk ditempati. Perjalanan tersebut diikuti oleh seseorang yang berpengaruh pula yang bernama Sri Tanwah. Sri Tanwah sendiri adalah adik perempuan dari Mangkubumi yang konon terkenal kecantikannya. Kecantikan tersebut hingga hari ini diyakini dimiliki oleh keturunan beliau yang masih bertahan di daerah Candi (Desa Candi dan Sekitarnya).
Rombongan Sri Tanwah tersebut bertemu daratan seperti tanjung yang oleh rombongan dinamai Tanjung. Sebagian anggota Rombongan tersebut memutuskan untuk naik ke daratan termasuk Sri Tanwah. Diatas daratan Tanjung tersebut terdapat bukit yang dinamakan Penggoda atau Pesiban Tanah di sebelah barat bukit tersebut terdapat bukit pula yang dinamakan Bukit Setunggang atau Bukit Sangka Puyuh.
Tidak semua anggota rombongan ikut menetap pula bersama Sri Tanwah. Rombongan lainnya memutuskan meneruskan perjalan ke masuk ke anak sungai Batangtebo bagian kiri yang dikenal dengan nama Sungai Batang Uleh. Dalam perjalanan tersebut rombongan melihat adanya sepah sirih dan asap menandakan adanya aktivitas penduduk di hulu sungai. Perjalanan diputuskan menuju arah asap yang terlihat tadi. Semak belukar tidak menjadi penghalang bagi rombongan. Semua ditebas oleh anggota rombongan. Namun saat perjalanan sudah hampir sampai, ternyata pedang salah satu anggota rombongan patah. Akhirnya diputuskan untuk menepi dan berhenti.
Disaat rombongan sedang beristirahat, terlihat ada sesosok wajah manusia yang terbang melayang ke Arah Teluk Kecimbung (Desa Teluk Kecimbung sekarang). Karena penasaran, semua anggota rombongan mengejar sosok tersebut dan terlihat bahwa yang mereka lihat bukanlah manusia melainkan "Mahluk Halus/ Jin".
Rasa capek dan lelah yang sangat menjadikan rombongan tidak sanggup lagi meneruskan perjalanan. Anggo Karti salah satu rombongan Mataram memilih menetap di daerah tersebut. Sedangkan beberapa orang anggota rombongan lebih memilih kembali pulang ke Balai Panjang. Anggo Karti dan rombongan yang memilih menetap tersebut menamakan daerah tersebut Rambah (Desa Rambah sekarang).
Setelah sekian lama, rombongan Sri Mangkubumi menetap di Balai Panjang, maka rombongan tersebut banyak yang membuka daerah-daerah baru yang kemudian menjadi Desa- Desa pada hari ini. Tersebut pula kisah tentang seorang yang bernama Berambai Lidah yang memutuskan untuk membangun pemukiman di daerah kebun kapas Sri Mangkubumi yang terletak di Desa Lubuk Landai hari ini. Orang-orang Tanah Periuk menamakan dia juga "Orang Tuo Tengka". Orang ini diyakini sebagai pendiri desa Lubuk Landai saat ini
Lubuk Landai sendiri berasal dari Kata Lebak Landai. Lebak merupakan kawasan rawa yang genangan airnya dipengaruhi air hujan atau luapan sungai. Landai konon mengacu pada Landai (Sarung) Keris yang terjatuh di Lebak tersebut. Namun hal yang berbeda dituturkan oleh tetua lubuk landai yang meyakini bahwa leluhur mereka adalah Pakubuwono, Keponakan Sri Mangkubumi yang menyusul pamannya dalam rombongan kedua dari Mataram.
Dalam perkembangannya, rombongan maupun keturunan dari orang-orang yang berada di Balai Panjang berhasil mendirikan 7 Desa diluar Balai Panjang. Sehingga diawal kemerdekaan ada 8 Desa dan setiap desa tersebut mempunyai pemimpin dengan gelar masig-masing:
1. Desa Balai Panjang/ Tanah Periuk
2. Desa Candi
3. Desa Rantau Embacang
4. Desa Empelu
5. Desa Teluk Pandak
6. Desa Tanjung
7. Desa Lubuk Landai
8. Desa Sungai Mancur
Hingga hari ini jumlah desa terus bertambah akibat pemekaran wilayah. Dimasa lampau orang-orang yang berada di Tujuh Desa menganggap jika ke Balai Panjang artinya "Pulang Kampung" karena mereka tahu bahwa semua leluhur mereka berasal dari Balai Panjang, titik awal Marga Tanah Sepenggal bermula. Keturunan yang berasal dari Balai Panjang tidak hanya sebatas Kecamatan Tanah Sepenggal hari ini saja namun diyakini hingga ke Lubuk Banteng, Kecamatan Bathin III.
Sejak tahun 2006, Tanah Sepenggal dimekarkan sehingga terbentuk kecamatan baru Tanah Sepenggal Lintas. Dua Wilayah kecamatan ini hanya terpisah oleh Sungai Batang Tebo. Bagian Selatan Sungai dinamakan Tanah Sepenggal, sedangkan bagian utara yang dilewati oleh Jalan Lintas Sumatera disebut Tanah Sepenggal Lintas.
Desa yang berada di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas hari ini :
1. Embacang Gedang
2. Lubuk Landai
3. Paku Aji
4. Pematang Panjang
5. Rantau Embacang
6. Rantau Makmur
7. Sungai Lilin
8. Sungai Mancur
9. Sungai Puri
10.Sungai Tembang
11.Tanah Periuk
12.Tebing Tinggi
13. Rantau Makmur
Desa yang berada di Kecamatan Tanah Sepenggal:
1.Candi
2.Empelu
3.Pasar Lubuk Landai
4.Pasar Rantau Embacang
5.Sungai Gambir
6.Tanah Bekali
7.Tanjung
8.Telentam
9.Teluk Pandak
Gelar Adat Di Tanah Sepenggal Lintas
Sebelum UU No.5 Tahun 1979 desa-desa di Tanah Sepenggal dan Tanah Sepenggal Lintas dipimpin oleh seseorang bergelar Rio. Rio ini dibantu oleh:
1. Patih
2. Ngebi
3. Debalang Batin
4. Juru Tulis
Setelah berlakunya UU tersebut pada masa orde baru, maka Rio diganti oleh Kepala desa dan pembantunya dilebur menjadi perangkat desa seperti kepala Dusun, RT, RW, dll.
Adapun di Tanah Sepenggal, Setiap Rio mempunyai gelar sesuai asal daerahnya. Berikut gelar tersebut.
1. Rio Darno gelar untuk pemimpin Desa Balai Panjang/ Tanah Periuk
2. Rio Sri Tanwah gelar untuk pemimpin Desa Pegoda/ Candi
3. Rio Mudo gelar untuk pemimpin Desa Lubuk Landai
4. Rio Suko Berajo gelar untuk pemimpin Desa Rantau Babancang / Rantau Embacang
5. Rio Indo Jayo gelar untuk pemimpin Desa Empelu
6. Rio Muko-Muko gelar untuk pemimpin Desa Teluk Pandak
7. Rio Sanggam gelar untuk pemimpin Desa Tanjung
8. Rio Anggorkarti gelar untuk pemimpin Desa Sungai Mancur
Hingga hari ini tidak diketahui makam Sri Mangkubumi. Dipercaya bahwa mangkubumi pulang kembali ke Mataram. Di awal-awal kemerdekaan saat masih menganut Sistem Pasirah sebagai pemimpin Kecamatan / Marga Tanah Sepenggal, masih tersisa benda-benda bersejarah berupa Gupil (Stempel), Piagam, Pedang, Sundang, Parang, Tombak, Baju Kerajaan, Ikat Pinggang. Namun hari ini barang-barang tersebut telah hilang, konon yang tersisa hanya ikat pinggan dan baju kerajaan yang hari ini tidak semua orang yang bisa melihat.
JEMBATAN Beatrix yang berlokasi di Kota Sarolangun merupakan sarana
penyeberangan bagi kendaraan roda dua dan empat, sebagai penghubung
antara Desa Sri Pelayang dengan Pasar Bawah Sarolangun.
Jembatan tersebut terbentang di atas aliran sungai Tembesi dengan panjang kurang lebih 100 meter dan bentuknya keseluruhan dibuat dari beton tebal dan kokoh.
Selain itu, terdiri dari tiga tiang penyangga yang diatasnya membentang empat bagian jembatan yang tulangnya juga terbuat dari beton berbentuk melengkung.
Cukup istimewa dan sangat unik keberadaannya dibandingkan jembatan buatan era saat ini. Jembatan yang dibuat pada tahun 1932 oleh orang pribumi dengan cara kerja paksa oleh zaman Belanda, diresmikan dan digunakan pada tahun 1939. Bangsa Belanda pada masa itu memberi nama jembatan tersebut yaitu Beatrix Brug yang berasal dari nama ratu Belanda yang berkuasa pada awal abad ke-19.
Bukti tersebut masih dapat dilihat pada pangkal jembatan di sebelah selatan atau jika ditempuh melalui Desa Sri Pelayang, tepatnya sebelah luar lengkungan pertama terpampang pada batu granit selebar 30 Cm dan panjang 40 Cm bertulisan Beatrix Brug.
Pada tahun 1980-an jembatan itu mengalami keruntuhan pada salah satu tiangnya yang diakibatkan oleh gerusan air Sungai Tembesi. Akan tetapi, jembatan itu beberapa tahun kemudian direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun.
Hingga saat ini, jembatan tersebut masih terlihat kokoh, unik, dan sangat indah jika dipandang terlebih di malam hari karena dihiasi lampu dan warna jembatan tersebut sangat kental sekali dengan barang bersejarah.Agar tetap terjaga, Pemkab Sarolangun pun selalu menganggarkan biaya perawatan jembatan tersebut. ‘’Kita sangat menghargai barang-barang peninggalan sejarah, oleh sebab itu jembatan Beatrix selalu kita jaga dan dirawat. Tujuannya selain sebagai sarana penghubung juga dapat dinikmati sebagai objek wisata,’’ ungkap Hasan Basri Agus (HBA) saat jadi Bupati Sarolangun.
Hal senada juga disampaikan oleh Kadis Budparporada Sarolangun Joni Rusman. Pada harian ini dirinya mengaku suatu kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Sarolangun memiliki jembatan peninggalan sejarah yang masih terawat hingga saat ini.
Kini jadi pilihan wisata kota yang cukup berkesan di sore hari. Dari cerita mulut ke mulut para tetua Sarolangun, konon, jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan Beatrix tersebut, dibangun sekitar tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda yang kala itu berkuasa, dengan melalui kerja rodi, menghubungkan langsung dua desa yang bersebarangan Desa Sri Pelayang dengan Kelurahan Pasar Sarolangun, dengan panjang sekitar 100 meter.
Dari Sari, salah satu sfat Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sarolangun, dietahui jika jembatan dengan konstruksi beton yang ditopang tiga tiang penyangga, dengan empat ruas jembatan menyatu, tidak terlalu banyak didukung dengan literatur sejarah, namun masalah penamaan, para sejawaran sarolangun berkesimpulan penamaan “Beatrix” berkemungkinan diambil dari nama salah satu ratu belanda yang lahir tahun 1938.
Bisa jadi penamaan jembatan tersebut, merupakan hadiah atas lahirnya putri Beatrix Wilhelmina Armgard, yang tidak lain anak dari Putri Mahkota Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard, yang lahir tahun 1938, setahun sebelum jembatan sarolangun diresmikan.
Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti kala peresmian jembatan tahun 1939, dimana ada tugu batu sejenis marmer yang bertuliskan “Beatrix Brug”, pangkal jembatan dari arah pasar bawah Sarolangun.
Adnan Sulaiman, salah satu warga kota sarolangun, bertutur, sejak sekitar tahun 1982 Jembatan sempat mengalami dan tidak terawat, namun bergulirnya pemekaran kabupaten sarolangun jembatan bersejarah ini kembali diperbaiki dan dipercantik dengan cat berwarna kuning gading menjadi objek wisata sejarah dan salah stu tempat tongkorngan warga kota melepas penat melihat arus sungai yang tenang atau sambil memancing di Sungai Tembesi yang mengalir dibawahnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sarolangun, mengakui jika jembatan ini, saat ini sudah terinvetarisir sebagai salah satu objek wisata sejarah di kota sarolangun. “Buka itu saja, kita juga telah beberapa kali menganggarkan dana untuk perbaikan dan perawatan jembatan sehingga tetap terlihat cantik dan enak dilihat,”sebutnya.
Konon, jembatan itu dibangun oleh Pemerintah Belanda melalui cara kerja paksa terhadap warga pribumi. Jembatan ini terbentang di atas Sungai Tembesi dan menjadi sarana yang menghubungkan Desa Sri Pelayang dengan Pasar Bawah Sarolangun. Jembatan ini diberi nama Beatrix Brug yang mengadopsi nama Ratu Belanda yang berkuasa pada sekitar abad ke-19. Hal ini masih dapat anda saksikan pada bagian pangkal jembatan ini terdapat batu granit selebar 30 cm dan panjang 40 cm bertulisan Beatrix Brug.
Jembatan tersebut terbentang di atas aliran sungai Tembesi dengan panjang kurang lebih 100 meter dan bentuknya keseluruhan dibuat dari beton tebal dan kokoh.
Selain itu, terdiri dari tiga tiang penyangga yang diatasnya membentang empat bagian jembatan yang tulangnya juga terbuat dari beton berbentuk melengkung.
Cukup istimewa dan sangat unik keberadaannya dibandingkan jembatan buatan era saat ini. Jembatan yang dibuat pada tahun 1932 oleh orang pribumi dengan cara kerja paksa oleh zaman Belanda, diresmikan dan digunakan pada tahun 1939. Bangsa Belanda pada masa itu memberi nama jembatan tersebut yaitu Beatrix Brug yang berasal dari nama ratu Belanda yang berkuasa pada awal abad ke-19.
Bukti tersebut masih dapat dilihat pada pangkal jembatan di sebelah selatan atau jika ditempuh melalui Desa Sri Pelayang, tepatnya sebelah luar lengkungan pertama terpampang pada batu granit selebar 30 Cm dan panjang 40 Cm bertulisan Beatrix Brug.
Pada tahun 1980-an jembatan itu mengalami keruntuhan pada salah satu tiangnya yang diakibatkan oleh gerusan air Sungai Tembesi. Akan tetapi, jembatan itu beberapa tahun kemudian direnovasi oleh Pemerintah Kabupaten Sarolangun.
Hingga saat ini, jembatan tersebut masih terlihat kokoh, unik, dan sangat indah jika dipandang terlebih di malam hari karena dihiasi lampu dan warna jembatan tersebut sangat kental sekali dengan barang bersejarah.Agar tetap terjaga, Pemkab Sarolangun pun selalu menganggarkan biaya perawatan jembatan tersebut. ‘’Kita sangat menghargai barang-barang peninggalan sejarah, oleh sebab itu jembatan Beatrix selalu kita jaga dan dirawat. Tujuannya selain sebagai sarana penghubung juga dapat dinikmati sebagai objek wisata,’’ ungkap Hasan Basri Agus (HBA) saat jadi Bupati Sarolangun.
Hal senada juga disampaikan oleh Kadis Budparporada Sarolangun Joni Rusman. Pada harian ini dirinya mengaku suatu kebanggaan bagi masyarakat Kabupaten Sarolangun memiliki jembatan peninggalan sejarah yang masih terawat hingga saat ini.
Kini jadi pilihan wisata kota yang cukup berkesan di sore hari. Dari cerita mulut ke mulut para tetua Sarolangun, konon, jembatan yang saat ini dikenal dengan sebutan jembatan Beatrix tersebut, dibangun sekitar tahun 1923 oleh pemerintah kolonial Belanda yang kala itu berkuasa, dengan melalui kerja rodi, menghubungkan langsung dua desa yang bersebarangan Desa Sri Pelayang dengan Kelurahan Pasar Sarolangun, dengan panjang sekitar 100 meter.
Dari Sari, salah satu sfat Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sarolangun, dietahui jika jembatan dengan konstruksi beton yang ditopang tiga tiang penyangga, dengan empat ruas jembatan menyatu, tidak terlalu banyak didukung dengan literatur sejarah, namun masalah penamaan, para sejawaran sarolangun berkesimpulan penamaan “Beatrix” berkemungkinan diambil dari nama salah satu ratu belanda yang lahir tahun 1938.
Bisa jadi penamaan jembatan tersebut, merupakan hadiah atas lahirnya putri Beatrix Wilhelmina Armgard, yang tidak lain anak dari Putri Mahkota Juliana dari Belanda dan Pangeran Bernhard, yang lahir tahun 1938, setahun sebelum jembatan sarolangun diresmikan.
Hal ini diperkuat dengan adanya prasasti kala peresmian jembatan tahun 1939, dimana ada tugu batu sejenis marmer yang bertuliskan “Beatrix Brug”, pangkal jembatan dari arah pasar bawah Sarolangun.
Adnan Sulaiman, salah satu warga kota sarolangun, bertutur, sejak sekitar tahun 1982 Jembatan sempat mengalami dan tidak terawat, namun bergulirnya pemekaran kabupaten sarolangun jembatan bersejarah ini kembali diperbaiki dan dipercantik dengan cat berwarna kuning gading menjadi objek wisata sejarah dan salah stu tempat tongkorngan warga kota melepas penat melihat arus sungai yang tenang atau sambil memancing di Sungai Tembesi yang mengalir dibawahnya.
Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Sarolangun, mengakui jika jembatan ini, saat ini sudah terinvetarisir sebagai salah satu objek wisata sejarah di kota sarolangun. “Buka itu saja, kita juga telah beberapa kali menganggarkan dana untuk perbaikan dan perawatan jembatan sehingga tetap terlihat cantik dan enak dilihat,”sebutnya.
Konon, jembatan itu dibangun oleh Pemerintah Belanda melalui cara kerja paksa terhadap warga pribumi. Jembatan ini terbentang di atas Sungai Tembesi dan menjadi sarana yang menghubungkan Desa Sri Pelayang dengan Pasar Bawah Sarolangun. Jembatan ini diberi nama Beatrix Brug yang mengadopsi nama Ratu Belanda yang berkuasa pada sekitar abad ke-19. Hal ini masih dapat anda saksikan pada bagian pangkal jembatan ini terdapat batu granit selebar 30 cm dan panjang 40 cm bertulisan Beatrix Brug.
Provinsi Jambi adalah salah satu provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Kota Jambi adalah ibukota dari provinsi ini. Kota Jambi terbentuk semenjak hadirnya kerajaan Melayu Jambi pada abad XVIII, di pinggiran sungai Batanghari. Jambi dibentuk oleh
kebudayaan material dan spiritual dari berbagai etnik, strata sosial,
ekonomi dan sistem pemerintahan pada masa lalu, yang dapat dilihat
melalui bentuk-bentuk bangunan dengan suasana/setting/rona lingkungan
pinggiran sungai.
Jambi pernah berada pada masa-masa pencarian identitas rumah adat.
Uniknya pencarian identitas tersebut bukan karena rumah adat di Jambi
telah punah, melainkan karena terlalu banyak pilihan dan harus memilih
satu di antara dua jenis arsitektur rumah tertua di Jambi. Hingga
kemudian pada tahun 70-an, gubernur menyelenggarakan sayembara untuk
memastikan rumah adat identitas negeri “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” ini.
Dari hasil sayembara tersebut, rumah panggung yang menjadi simbol
hunian tardisional masyarakat Jambi dan kita kenal hari ini adalah Rumah Panggung Kajang Leko.
Sebagai bentuk dukungan langsung, Pemerintah Provinsi Jambi membangun
rumah tersebut di dalam kompleks Kantor Gubernur Jambi. Dikerjakan pada
tahun 1971-1974 serta memusiumkannya. Hingga hari ini kita masih mudah menemukan Rumah Panggung Kajang Leko,
bahkan di luar kantor-kantor pemerintahan. Hal ini menjadi poin positif
tentunya, karena masyarakat Jambi justru bereforia membangun
rumah-rumah berarsitektur adat di tengah perkembangan budaya dan
rongrongan kemajuan zaman.
Rumah Panggung Kajang Leko adalah konsep arsitektur dari Marga Bathin. Sampai sekarang orang Bathin masih mempertahankan adat istiadat yang diwariskan oleh nenek moyang mereka, bahkan peninggalan Kajang Leko atau Rumah Lamo
pun masih bisa dinikmati keindahannya dan masih dipergunakan hingga
kini. Salah satu perkampungan Bathin yang masih utuh hingga sekarang
adalah Kampung Lamo di Rantau Panjang.
Tipologi Rumah Kajang Leko berbentuk bangsal, empat
persegi panjang dengan ukuran 12 meter x 9 meter. Keunikannya terletak
pada struktur konstruksi dan seni ukiran yang menghiasi bangunan.
Seperti yang telah kita ketahui dan dinyatakan oleh Budihardjo
(1994:57), bahwa rumah adalah aktualisasi diri yang diejawantahkan dalam
bentuk kreativitas dan pemberian makna bagi kehidupan penghuninya.
Selain itu rumah adalah cerminan diri, yang disebut Pedro Arrupe sebagai ”Status Conferring Function”, kesuksesan seseorang tercermin dari rumah dan lingkungan tempat huniannya.
Dari segi konstruksi bubungan atap bangunan rumah panggung Kejang Lako dinamai ‘gajah mabuk’
diambil dari nama pembuat rumah yang mabuk cinta tetapi tidak mendapat
restu orang tuanya. Bubungan tersebut dibuat menyerupai perahu dengan
ujung bagian atas bubungan melengkung ke atas yang disebut potong jerambah, atau lipat kajang.
Dengan atap bagian atas dinamakan kasau bentuk dibuat dari mengkuang
atau ijuk yang dianyam kemudian dilipat dua, berfungsi untuk mencegah
air hujan agar tidak masuk ke dalam rumah.
Pada bagian langit-langit ada yang dinamai tebar layar yang berfungsi
sebagai dinding penutup ruang atas dan penahan rembesan tempias air
hujan. Sementara ruang antara tebar layar dan bubungan atap difungsikan
sebagai tempat menyimpan barang tak terpakai dinamai panteh. Dan pada
bagian samping, masing-masing dinding, terbuat dari papan yang diukir.
Sedangkan pintunya terdiri dari 3 macam. Ketiga pintu tersebut adalah
pintu tegak, pintu masinding, dan pintu balik melintang.
Rumah Panggung Kajang Lako memiliki 30 tiang yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. Tiang utama dipasang dalam bentuk enam jajar, dengan panjang masing-masing 4,25 meter. Tiang utama berfungsi sebagai tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan juga sebagai tiang penyekat yang membagi ruangan menjadi 8 ruangan, dan keseluruhan ruangan tersebut memiliki ukuran dan kegunaannya masing-masing.
Rumah Panggung Kajang Lako memiliki 30 tiang yang terdiri dari 24 tiang utama dan 6 tiang palamban. Tiang utama dipasang dalam bentuk enam jajar, dengan panjang masing-masing 4,25 meter. Tiang utama berfungsi sebagai tiang bawah (tongkat) dan sebagai tiang kerangka bangunan juga sebagai tiang penyekat yang membagi ruangan menjadi 8 ruangan, dan keseluruhan ruangan tersebut memiliki ukuran dan kegunaannya masing-masing.
Delapan ruangan tersebut antara lain; Ruang pelamban
letaknya berada di sebelah kiri bangunan induk. Ruangan ini menggunakan
bambu belah yang telah diawetkan sebagai lantainya, dipasang agak jarang
untuk mempermudah air mengalir ke bawah. Pelamban difungsikan sebagi
ruang tunggu bagi tamu yang baru datang sebelum diizinkan masuk rumah.
Berikutnya adalah ruang gaho, ruang ini terletak pada ujung sebelah kiri
bangunan dengan posisi memanjang. Karena dalam ruang gaho terdapat
dapur, tempat air dan tempat penyimpanan barang. Ruangan ini dihiasi
motif ikan dibuat tidak berwarna dan diukirkan di bagian bendul gaho.
Di bagian depan terdapat ruang masinding. Masyarakat Jambi biasanya
menggelar musyawarah adat di rungan ini, dan dipergunakan untuk tempat
duduk khusus untuk kaum laki-laki. Karena ruangan ini berfungsi sebagai
sarana interaksi sosial, tak heran jika kita mendapati beberapa ragam
ukiran. Antara lain motif bungo tanjung yang diukirkan di bagian depan
masinding. Kemudian motif tampuk manggis di atas pintu masuknya.
Berikutnya kita akan menemukan motif bungo jeruk yang diukir pada luar
rasuk (belandar) di atas pintu. Ragam hias dengan motif flora tersbut
dibuat berwarna. Ketiga motif ragam hias tersebut dimaksudkan untuk
memperindah bangunan dan ruangan masinding khususnya, dengan makna
filofosis menggambarkan kesuburan alam Jambi.
Setelah kita dibuat terpukau dengan ukiran-ukiran yang terdapat di
ruang masinding, langsung saja kita memasuki ruang tengah. Ruang tengah
adalah ruang yang berada di tengah-tengah Rumah Panggung Kajang Leko.
Antara ruang tengah dengan ruang masinding ini tidak disekat oleh
dinding. Fungsinya secara khusus, ruang tengah ini ditempati oleh para
wanita pada saat pelaksanaan upacara adat. Ruangan lain dalam rumah
tinggal orang Bathin adalah ruang balik menalam atau ruang dalam.
Ruangan ini dibagi lagi menjadi beberapa bagian, atara lain; ruang
makan, ruang tidur anak gadis, dan ruang tidur orang tua.
Berikutnya adalah ruang balik malintang. Ruang ini terletak di ujung
sebelah kanan Rumah Panggung Kajang Leko dengan posisi menghadap ke
ruang tengah dan ruang masinding. Lantai pada ruangan ini dibuat lebih
tinggi daripada ruangan lainnya, karena berfungsi sebagai ruang utama,
ruangan ini tidak boleh ditempati oleh sembarang orang. Besarnya ruangan
balik melintang berukuran 2×9 meter, atau sama dengan luas ruang gaho.
Seperti halnya ruang gaho, ruangan balik melintang pun dihiasi ragam
ukiran yang berbentuk ikan yang sudah distilir ke dalam bentuk
daun-daunan yang dilengkapi dengan bentuk sisik ikan.
Sementara di bagian bawah terdapat ruang bauman. Ruang ini tidak berlantai dan tidak berdinding, dipergunakan untuk menyimpan abrang, atau memasak pada waktu ada pesta, serta kegiatan lainnya. Rumah Panggung Kajang Leko memiliki dua tangga, yaitu: tangga utama yang terdapat di sebelah kanan pelamban dan tangga penteh yang dipakai untuk naik ke penteh.
Sementara di bagian bawah terdapat ruang bauman. Ruang ini tidak berlantai dan tidak berdinding, dipergunakan untuk menyimpan abrang, atau memasak pada waktu ada pesta, serta kegiatan lainnya. Rumah Panggung Kajang Leko memiliki dua tangga, yaitu: tangga utama yang terdapat di sebelah kanan pelamban dan tangga penteh yang dipakai untuk naik ke penteh.
Rumah Panggung Kajang Leko adalah salah satu bentuk pengejawantahan
cita rasa seni, budaya, dan keyakinan masyarakat Jambi yang tersirat
mulai dari bentuk bangunan, fungsi ruangan, seni ukiran, dll. Padahal
pada awal peradaban manusia, fungsi dasar rumah adalah untuk melindungi
gangguan alam dan binatang. Namun sejalan dengan peradaban, fungsi rumah
berkembang sebagai sumber rasa aman dan kenyamanan. Secara sosial rumah
juga berfungsi sebagai tatus simbol dan ukuran kemakmuran. Kini
keberadaan Rumah Panggung Kajang Leko juga digunakan sebagai sarana
investasi, pariwisata, dan sumber penilitian akademiki.
Anak berajo kebapak
Kemenakan berajo kemamak
Gedang anak sekato bapak
Gedang kemenakan sekato mamak
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa tanggungjawab membesarkan serta mendidik anak terletak ditangan orang tuanya (ayah), sedangkan tanggungjawab membesarkan dan mendidik kemenakannya adalah terletak ditangan pamannya sendiri. Dalam ungkapan tersebut juga menjelaskan adanya pembagian tugas dan tanggungjawab antara seorang ayah dan seorang paman dalam adat istiadat daerah Jambi. Pembagian tugas dan tanggungjawab ini dapat menjamin kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anak pada masanya yang memang memerlukan bantuan orang dewasa. Terkadang dapat saja seseorang berfungsi ganda, disamping mengasuh, membesarkan, serta mendidik anak-anaknya, juga mengasuh, membesarkan, serta mendidik kemenakannya. Ungkapan trasaisional ini mengisyaratkan bahwa keselamatan kehidupan kelompok kekerabatan perlu diwujudkan sedemikian rupa. Tentu saja, baik si anak maupun sikemenakan harus menurut perintah ayah dan pamannya. Ungkapan ini menjelaskan bahwa ayah dan paman dalam kekerabatan memiliki tanggung jawab yang besar dalam masyarakat Melayu Jambi.
READ MORE
Kemenakan berajo kemamak
Gedang anak sekato bapak
Gedang kemenakan sekato mamak
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa tanggungjawab membesarkan serta mendidik anak terletak ditangan orang tuanya (ayah), sedangkan tanggungjawab membesarkan dan mendidik kemenakannya adalah terletak ditangan pamannya sendiri. Dalam ungkapan tersebut juga menjelaskan adanya pembagian tugas dan tanggungjawab antara seorang ayah dan seorang paman dalam adat istiadat daerah Jambi. Pembagian tugas dan tanggungjawab ini dapat menjamin kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anak pada masanya yang memang memerlukan bantuan orang dewasa. Terkadang dapat saja seseorang berfungsi ganda, disamping mengasuh, membesarkan, serta mendidik anak-anaknya, juga mengasuh, membesarkan, serta mendidik kemenakannya. Ungkapan trasaisional ini mengisyaratkan bahwa keselamatan kehidupan kelompok kekerabatan perlu diwujudkan sedemikian rupa. Tentu saja, baik si anak maupun sikemenakan harus menurut perintah ayah dan pamannya. Ungkapan ini menjelaskan bahwa ayah dan paman dalam kekerabatan memiliki tanggung jawab yang besar dalam masyarakat Melayu Jambi.
Adat bumbun menyelero
Adat padang kepanasan
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa pekerjaan banyak dan rumit menghendaki biaya besar. Leksem bumbun diartikan sejenis tumbuhan rendah yang rimbun daunnya, yang banyak ini tentu banyak juga seleranya. Maksudnya daun tua yang sewaktu-waktu akan gugur memenuhi tempat tumbuhnya. Sementara tanah lapang yang berumput yang tidak ditumbuhi pepohonan menerima kewajaran menerima panas matahari yang memanggang di bandingkan dengan tempat-tempat lain yang pepohonan. Kedua macam wujud alam inilah yang kemudian dipakai sebagai kiasan bagi orang-orang tertentu yang karena kayanya memilki banyak usaha dan banyak yang diperlukan dan diselesaikan. Tentu saja untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak diperlukan tenaga pekerja yang banyak pula. Sudah jelas bahwa mengerahkan orang banyak membutuhkan biaya yang besar. Pada zaman dahulu, masyarakat Jambi menyatakan orang kaya diukur dari luasnya huma atau ladang yang dimilikinya. Misalnya menuai padi dengan memanggil banyak orang dan membutuhkan makanan yang banyak pula. Masyarakat daerah Jambi memiliki rasa kebersamaan dalam tatanan kehidupan rakyat Jambi. Jelas sekali bahwa ungkapan tradisional ini berisi suatu petuah yang mengajarkan agar setiap orang kaya selalu menyenangkan orang lain secara iklas dan manusiawi.
READ MORE
Adat padang kepanasan
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa pekerjaan banyak dan rumit menghendaki biaya besar. Leksem bumbun diartikan sejenis tumbuhan rendah yang rimbun daunnya, yang banyak ini tentu banyak juga seleranya. Maksudnya daun tua yang sewaktu-waktu akan gugur memenuhi tempat tumbuhnya. Sementara tanah lapang yang berumput yang tidak ditumbuhi pepohonan menerima kewajaran menerima panas matahari yang memanggang di bandingkan dengan tempat-tempat lain yang pepohonan. Kedua macam wujud alam inilah yang kemudian dipakai sebagai kiasan bagi orang-orang tertentu yang karena kayanya memilki banyak usaha dan banyak yang diperlukan dan diselesaikan. Tentu saja untuk menyelesaikan pekerjaan yang banyak diperlukan tenaga pekerja yang banyak pula. Sudah jelas bahwa mengerahkan orang banyak membutuhkan biaya yang besar. Pada zaman dahulu, masyarakat Jambi menyatakan orang kaya diukur dari luasnya huma atau ladang yang dimilikinya. Misalnya menuai padi dengan memanggil banyak orang dan membutuhkan makanan yang banyak pula. Masyarakat daerah Jambi memiliki rasa kebersamaan dalam tatanan kehidupan rakyat Jambi. Jelas sekali bahwa ungkapan tradisional ini berisi suatu petuah yang mengajarkan agar setiap orang kaya selalu menyenangkan orang lain secara iklas dan manusiawi.
Adat dak lekang dek panas dak lapuk
dek ujan
Titian beteras
Tanggo bebatu
Jalan berambah nan diturut
Baju bejait nan dipakai
Sumur tegenang nan disauk
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa adat istiadat serta kebiasaan yang sudah turun temurunlah yang harus diikuti supaya tidak tercela di dalam masyarakat dan pandangan orang banyak. Ungkapan tersebut menjelaskan betapa kuatnya kedudukan adat serta hukum yang digariskan di tengah-tengah kehidupan masyarakat daerah Jambi dari dahulu hinga sekarang. Titian tetas betanggo batu bermakna suatu ketentuan yang keras dan memiliki sanksi yang harus diikuti oleh masyarakat daerah Jambi. Jalan berambah yang diturut maksudnya adalah agar seseorang tidak boleh meyimpang dari aturan yang berlaku, begitu pula dengan sumur tegenang yang disauk, memiliki makna bahwa apa-apa yang telah tersedia saja yang boleh diambil supaya terjaga dan terjamin dari kemungkinan hal-hal yang tidak baik. Ungkapan tradisional ini merupakan nasehat kepada anak Jambi supaya berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang terdapat dinegerinya yang sudah ada secara turun temurun. Ungkapan ini juga berisi himbauan kepada masyarakat Jambi untuk mengutamakan sopan santun bermasyarakat.
READ MORE
dek ujan
Titian beteras
Tanggo bebatu
Jalan berambah nan diturut
Baju bejait nan dipakai
Sumur tegenang nan disauk
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa adat istiadat serta kebiasaan yang sudah turun temurunlah yang harus diikuti supaya tidak tercela di dalam masyarakat dan pandangan orang banyak. Ungkapan tersebut menjelaskan betapa kuatnya kedudukan adat serta hukum yang digariskan di tengah-tengah kehidupan masyarakat daerah Jambi dari dahulu hinga sekarang. Titian tetas betanggo batu bermakna suatu ketentuan yang keras dan memiliki sanksi yang harus diikuti oleh masyarakat daerah Jambi. Jalan berambah yang diturut maksudnya adalah agar seseorang tidak boleh meyimpang dari aturan yang berlaku, begitu pula dengan sumur tegenang yang disauk, memiliki makna bahwa apa-apa yang telah tersedia saja yang boleh diambil supaya terjaga dan terjamin dari kemungkinan hal-hal yang tidak baik. Ungkapan tradisional ini merupakan nasehat kepada anak Jambi supaya berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang terdapat dinegerinya yang sudah ada secara turun temurun. Ungkapan ini juga berisi himbauan kepada masyarakat Jambi untuk mengutamakan sopan santun bermasyarakat.
Adat selingkung koto
Undang selingkung alam
Adat ditangan nenik mamak
Undang ditangan rajo
Rumah betenggainai
Kampung bertuo
Luhak bepenghulu
Rantau bejenang
Nagari bebatin
Alam berajo
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa setiap daerah atau tempat mempunyai peraturan dan perundang-undangan sendiri serta mempunyai penguasa yang akan melindunginya. Sepanjang hidup manusia suka berpergian ke daerah-daerah lain atau merantau. Perbuatan tersebut boleh jadi karena dorongan ingin mencari ilmu atau mencoba hidup didaerah perantauan sementara di negerinya sendiri sudah terasa amat sempit mata pencahariannya . Bagi anak perantau Daerah Jambi selalu dingatkan bahwa setiap negeri yang dikunjunginya mempunyai peraturan dan perundang undangan. Dengan demikian perantau harus sadar akan dirinya. Jangan membuat sesuatu yang melanggar hukum negeri yang baru di kunjunginya. Ia harus pandai-pandai membawakan diri. Bila ada suatu persoalan, maka beritahukanlah kepada penguasa negeri untuk menyelesaikannya. Ingat bahawa dinegeri itu sudah ada pihak pihak yang bertugas untuk menentukan keputusan apa yang akan ditetapkan.
READ MORE
Undang selingkung alam
Adat ditangan nenik mamak
Undang ditangan rajo
Rumah betenggainai
Kampung bertuo
Luhak bepenghulu
Rantau bejenang
Nagari bebatin
Alam berajo
Seloko adat Melayu Jambi tersebut bermakna bahwa setiap daerah atau tempat mempunyai peraturan dan perundang-undangan sendiri serta mempunyai penguasa yang akan melindunginya. Sepanjang hidup manusia suka berpergian ke daerah-daerah lain atau merantau. Perbuatan tersebut boleh jadi karena dorongan ingin mencari ilmu atau mencoba hidup didaerah perantauan sementara di negerinya sendiri sudah terasa amat sempit mata pencahariannya . Bagi anak perantau Daerah Jambi selalu dingatkan bahwa setiap negeri yang dikunjunginya mempunyai peraturan dan perundang undangan. Dengan demikian perantau harus sadar akan dirinya. Jangan membuat sesuatu yang melanggar hukum negeri yang baru di kunjunginya. Ia harus pandai-pandai membawakan diri. Bila ada suatu persoalan, maka beritahukanlah kepada penguasa negeri untuk menyelesaikannya. Ingat bahawa dinegeri itu sudah ada pihak pihak yang bertugas untuk menentukan keputusan apa yang akan ditetapkan.
Berdasarkan genealogi ”universitas”
sebagai kumpulan guru dan siswa ilmuwan, sejak universitas pertama di
China dan di Nalanda, India, abad ke-5, diikuti universitas modern
di Bologna, Italia, abad ke-11, diperkirakan situs purbakala Muaro
Jambi di Sumatera, paling tidak pada awal abad ke-7, juga sudah
merupakan kompleks pusat pembelajaran yang ternama. Baru disusul
beberapa abad kemudian di Indonesia dengan berdirinya Universitas
Gadjah Mada dan universitas lainnya.
Di kompleks yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari luar Kota Jambi, di pinggiran Sungai Batanghari, yang terserak dalam 80 manapo (reruntuhan), telah berkembang tradisi sebuah universitas. Berdasarkan catatan dan peninggalan yang ada, diperkirakan Muaro Jambi merupakan pusat pembelajaran sejak abad ke-7 hingga abad ke-11. Dengan demikian, praksis pendidikan di sana bisa dikatakan sebagai universitas tertua di Indonesia.
Situs Muaro Jambi ditemukan pertama kali pada 1820 oleh perwira tentara Inggris, Letnan SC Crooke, diawali laporan MG Coedes pada 1918 dan diikuti oleh Prof Krom, WF Stutterheim, JG de Casparis, dan sederet nama arkeolog besar Belanda lainnya. Sementara nama-nama besar arkeolog Indonesia, seperti Prof Dr Satyawati Sulaiman, Prof Dr Slamet Muljana, Prof Dr R Soekmono, dan Prof Dr RP Soejono, berikut arkeolog-arkeolog muda Indonesia kemudian, memberikan kepastian tentang berkembangnya sebuah tradisi hidup bersama pada masa lalu dengan berbahan batu merah yang dipisahkan satu sama lain oleh kanal-kanal.
Dari bukti tulisan-tulisan dan
peninggalan arkeologi yang ada, tampak jelas adanya pengaruh institusi
yang serupa, terutama Sanghrama Nalanda, terhadap perkembangan Muaro
Jambi sebagai kompleks pusat pembelajaran atau universitas. Kedekatan
hubungan antara Sriwijaya dan Nalanda, antara lain, tercatat dalam
”Nalanda Copperplate” (860) yang menyebutkan bahwa Raja Balaputradewa
dari Sriwijaya membangun wihara di Nalanda serta diberi oleh penguasa
di sana lima desa. Hasil dari ke-5 desa tersebut digunakan untuk
pemeliharaan wihara dan membiayai para siswa di sana.
Dimulai dari kedatangan I-Tsing yang
pertama pada abad ke-7, proses pembelajaran di sana diperkirakan
berlangsung paling tidak selama 400 tahun lebih dengan pulangnya
seorang terpelajar dari India, Dipamkara Srijnana, pada tahun 1025
setelah selama 12 tahun belajar di Muaro Jambi.
Menurut temuan tim SUDIMUJA, Sanghrama (Universitas) Mahawihara Nalanda berkembang dari fokus ”belajar untuk bhakti” menjadi ”belajar untuk pengetahuan”. Raja-raja dinasti Gupta yang membangun Nalanda bukanlah buddhis, melainkan penganut Hindu Brahma sehingga sanghrama dikembangkan bukan dari sudut keagamaan, melainkan demi mendorong dan mendukung sistem pembelajaran, pendidikan, dan kebudayaan bagi kepentingan masyarakat.
Hal
yang sama diberlakukan dalam praksis pendidikan di Muaro Jambi.
Bahasa Sanskerta menjadi bahasa pengantar, seperti ditunjukkan oleh
Prasasti Talang Tuo (684) bahwa pada abad ke-7 M, Sriwijaya mengikuti
cara pandang Mahayana, dan menurut I-Tsing, beliau pun belajar tata
bahasa Sanskerta di Fo-shih.
Biara-biara yang sebelumnya hanya diperuntukkan bagi biarawan berkembang menjadi pusat-pusat belajar umum yang juga terbuka untuk awam.
Berpagar tembok
Seperti di Nalanda, hampir semua bangunan di Muaro Jambi dikelilingi pagar tembok dengan ketinggian 6 meter, berpetak-petak dengan luas yang berbeda-beda. Tulis I-Tsing, ”Saat itu di Sriwijaya ada ribuan biarawan yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang berpagar tembok.” Hampir semua kelas dan kegiatan dijalankan dalam lingkungan berpagar tembok, di petak-petak halaman terbuka yang dilandasi dengan paving batu bata. Sampai sekarang, reruntuhan fondasi pagar, halaman-halaman, beserta pavingnya masih jelas terlihat.
Berdasarkan catatan Tim SUDIMUJA, ajaran-ajaran dari salah seorang alumnus Muaro Jambi, yang pernah menjadi dasar agama nasional di suatu kerajaan, sampai sekarang pun masih diajarkan dan dipraktikkan di sejumlah negara di dunia.
Ketika situs Muaro Jambi diperjuangkan
sebagai salah satu warisan dunia, seperti yang sudah ditetapkan untuk
Candi Borobudur dan Candi Prambanan, kedudukan Muaro Jambi sebagai
universitas akan menjadi nilai tambah yang sangat berarti. Apalagi,
selain I-Tsing, tercatat pula banyak peziarah lain, seperti Wu-Hing,
yang pernah belajar beberapa lama di Sriwijaya (Muaro Jambi) sebagai
persiapan belajar di Nalanda. Sebaliknya juga banyak biarawan India
yang belajar beberapa tahun di Muaro Jambi, kemudian kembali ke India
untuk mengajar, seperti Dipamkara Srijnana, Sakyakirti, Vajrabodhi,
dan Amogavajra. Sebaliknya, banyak guru dan siswa Muaro Jambi juga
belajar di Nalanda.
Dari serangkaian bukunya, antara lain I-Tsing menulis tentang apa yang ia temukan di Fo-shih. ”Saat itu ada ribuan biarawan yang tekun belajar dan beribadah. Mereka tinggal di kawasan yang bertembok… Mereka mempelajari semua mata kuliah seperti yang diajarkan di India… Mereka mempelajari pancavidya: logika, tata bahasa dan kesusastraan, ilmu pengobatan, kesenian, serta metafisika dan filsafat. Tata cara dan upacara pun tidak berbeda… Jika biarawan dari China berkehendak untuk belajar di India, sebaiknya dia tinggal di Sriwijaya selama satu atau dua tahun untuk mempersiapkan dan melatih dirinya tentang cara-cara yang benar.” Tempat yang dimaksud oleh I-Tsing diperkirakan adalah Muaro Jambi.
Situs Muaro Jambi, salah satu situs peninggalan Kerajaan Sriwijaya, selain sudah dikenal sebagai tempat ibadah, juga diprediksi sebagai pusat belajar. Hipotesis ini niscaya menarik bagi para arkeolog, ahli sejarah, dan para ahli dari disiplin ilmu lain karena selain terus digali kekayaan arkeologisnya, juga kemungkinannya sebagai universitas tertua di Indonesia.
Langkah-langkah yang sudah ditempuh, selain pengembangan sarana wisata, penyelenggaraan Waisak tahun 2007 sebagai peringatan pertama Waisak di luar kompleks Candi Borobudur, perlu dilanjutkan. Semakin banyak data yang memperkuat situs Muaro Jambi sebagai universitas, setelah sebagai situs candi terluas di Indonesia, bukankah menantang dibuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Mengapa tidak?
Suku Melayu Jambi merupakan penduduk asli yang tersebar di seluruh kabupaten di
provinsi Jambi. Populasi suku Melayu Jambi ini diperkirakan sebesar
1.170.000 orang.
![]() | |||
| Presiden SBY dan Ibu Ani Sewaktu menerima galar adat Melayu Jambi |
Penyebaran suku Melayu Jambi terbentang dari kabupaten Tanjung Jabung,
Batanghari hingga Bungo Tebo. Dusun-dusun mereka saling berjauhan dengan
rumah-rumah yang dibangun di pinggiran sungai besar atau sungai kecil.
Pada umumnya suku Melayu Jambi bermukim di dataran rendah dengan hutan
yang padat, rawa-rawa, di tepi sungai-sungai yang mengalir dari sungai
Batang Hari dan cabang-cabangnya Kehidupan di tepi sungai sangatlah
penting, karena sungai menjadi sarana transportasi dan sebagai sumber
kehidupan mereka.
Orang Melayu Jambi mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Mereka memiliki
prinsip “adat menurun, syarak mendaki, adat bersendi syarak, syarak
bersendi kitabullah”, artinya "segala ketentuan yang mengatur kehidupan
dalam masyarakat berasal dari budaya nenek moyang dan bersumber dari
ajaran-ajaran agama, yaitu Al quran dan dan Hadits" Mereka adalah muslim yang taat, terlihat di setiap kelurahan dan setiap RT berdiri bangunan mesjid, madrasah atau tempat pengajian.
ajaran-ajaran agama, yaitu Al quran dan dan Hadits" Mereka adalah muslim yang taat, terlihat di setiap kelurahan dan setiap RT berdiri bangunan mesjid, madrasah atau tempat pengajian.
Dalam kehidupan orang Melayu Jambi menjalankan prinsip bilateral dengan menempatkan faktor keluarga batih sebagai dasar perhitungan hubungan kekeluargaan. Mereka selalu memiliki hubungan kekerabatan dari pihak ibu maupun bapak. Sistem kekerabatan tersebut disebut dengan istilah “sanak”, yaitu keturunan hingga generasi ketiga. Kelompok ini biasanya saling membantu dalam setiap acara keluarga seperti perkawinan, kematian dan lain-lain. Hak dan kewajiban diatur berdasarkan perbedaan usia, terutama dalam setiap upacara adat. Tapi dalam kenyataannya saat ini, tingkatan sosial terlihat berdasarkan tingkat pendidikan, harta dan jabatan. Seorang kepala desa di kalangan orang Melayu disebut sebagai “datuk”, yang relatif dijadikan panutan oleh masyarakat.
Tradisi adat dan budaya suku Melayu Jambi, selain didominasi oleh budaya
Melayu, mirip juga dengan budaya suku Minangkabau. Hal ini, kemungkinan
antara suku Melayu Jambi dan suku Minangkabau terjadi hubungan
kekerabatan pada masa lalu, atau bersumber dari asal-usul dan nenek
moyang sama..
Orang Melayu Jambi pada umumnya bermatapencaharian sebagai nelayan.
Mereka juga bertani pada tanaman padi dengan cara bergotongroyong, yang
disebut sebagai “pelarian”. Istilah "pelarian" berasal dari
kata “ari” atau “hari”, artinya "setiap anggota kelompok kerja akan
memperoleh bantuan tenaga kerja dalam waktu 1 hari dari anggota lainnya
secara bergiliran". Selain bertani dan nelayan, gotong royong dalam
bertani, mereka juga banyak yang menjadi pedagang, bekerja pada
kantor-kantor pemerintahan dan lain-lain.
JAMBI,-Ketua Dewan Kesenian Jambi (DKJ) Aswan Ashari mengungkapkan dari
beberapa literatur yang ditulis peneliti tentang Jambi termaktub fakta
tentang bahasa Melayu Jambi termasuk induk dari bahasa Melayu di
nusantara dan bahasa Indonesia.
"Ini adalah khasanah yang patut dibanggakan orang Jambi, karena dari literatur atau buku-buku penelitian para ahli bahasa dan budaya bahkan banyak yang memaparkan dugaan seperti itu, salah satunya Uli Kozok, salah seorang peneliti dari Hawai University," kata Aswan di Jambi, Selasa.
Aswan mengungkapkan hal tersebut saat kegiatan pelatihan penulisan kritik sastra dan penulisan kreatif karya puisi yang diselenggarakan Kantor Bahasa Jambi dengan menghadirkan sastrawan Agus R Sarjono pada 19-20 Desember, sebagai satu rangkaian dari agenda Pertemuan Penyair Nusatara (PPN) VI di Jambi pada 28-31 Desember mendatang.
Ia mengutip hasil penelitian Uli Kozok yang meneliti tentang bahasa dan naskah Melayu tertua di dunia peninggalan zaman Adiyawarman, Raja Pagaruyung di Sumbar yakni Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah dari Kerinci pada 2006.
Menurut para ahli dan Uli Kozok, salah satu indikasi untuk mengukur atau memperkirakan tua tidaknya bahasa satu daerah itu adalah dari melihat banyaknya dialek bahasa tersebut, dan bahasa Jambi menurut mereka memiliki lebih dari 500 hingga 1.000 dialek.
Khususnya Uli Kozok yang meneliti bahasa Kerinci tentu saja mengambil sampel tersebut dari bahasa Kerinci yang masyarakat penggunanya diyakini juga sebagai salah satu suku proto-Melayu yang masih ada saat ini, di mana dialek bahasa Kerinci memang paling banyak di antara bahasa daerah lainnya.
Di Kerinci, tambah dia, dialek bahasa yang digunakan masyarakatnya sudah berbeda di setiap desa, bahkan ada yang sudah berbeda dialek pada dua desa bertetangga yang hanya dipisahkan oleh parit kecil.
"Hanya saja, sebagian rakyat Jambi semestinya harus menyikapi dan mengapresiasi kondisi tersebut dengan menumbuh kembangkan sikap apresiatif positif yang diwujudkan dengan tumbuhnya kesadaran untuk bangga dan selanjutnya berkeinginan menggali khasanah tersebut guna dijadikan identitas berbudaya," tegasnya.
"Ini adalah khasanah yang patut dibanggakan orang Jambi, karena dari literatur atau buku-buku penelitian para ahli bahasa dan budaya bahkan banyak yang memaparkan dugaan seperti itu, salah satunya Uli Kozok, salah seorang peneliti dari Hawai University," kata Aswan di Jambi, Selasa.
Aswan mengungkapkan hal tersebut saat kegiatan pelatihan penulisan kritik sastra dan penulisan kreatif karya puisi yang diselenggarakan Kantor Bahasa Jambi dengan menghadirkan sastrawan Agus R Sarjono pada 19-20 Desember, sebagai satu rangkaian dari agenda Pertemuan Penyair Nusatara (PPN) VI di Jambi pada 28-31 Desember mendatang.
Ia mengutip hasil penelitian Uli Kozok yang meneliti tentang bahasa dan naskah Melayu tertua di dunia peninggalan zaman Adiyawarman, Raja Pagaruyung di Sumbar yakni Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah dari Kerinci pada 2006.
Menurut para ahli dan Uli Kozok, salah satu indikasi untuk mengukur atau memperkirakan tua tidaknya bahasa satu daerah itu adalah dari melihat banyaknya dialek bahasa tersebut, dan bahasa Jambi menurut mereka memiliki lebih dari 500 hingga 1.000 dialek.
Khususnya Uli Kozok yang meneliti bahasa Kerinci tentu saja mengambil sampel tersebut dari bahasa Kerinci yang masyarakat penggunanya diyakini juga sebagai salah satu suku proto-Melayu yang masih ada saat ini, di mana dialek bahasa Kerinci memang paling banyak di antara bahasa daerah lainnya.
Di Kerinci, tambah dia, dialek bahasa yang digunakan masyarakatnya sudah berbeda di setiap desa, bahkan ada yang sudah berbeda dialek pada dua desa bertetangga yang hanya dipisahkan oleh parit kecil.
"Hanya saja, sebagian rakyat Jambi semestinya harus menyikapi dan mengapresiasi kondisi tersebut dengan menumbuh kembangkan sikap apresiatif positif yang diwujudkan dengan tumbuhnya kesadaran untuk bangga dan selanjutnya berkeinginan menggali khasanah tersebut guna dijadikan identitas berbudaya," tegasnya.
Bagi masyarakat pedesaan di daerah
Jambi, begitu pun masyarat Melayu Jambi, pada dasarnya mereka menganut
prinsip kekerabatan billateral, oleh karena itu setiap individu dalam
menarik garis keturunannya selalu menghubungkan dirinya kepada pihak
ayah maupun pihak ibu. Denga kata lain hubungan kekerabatan antara
seorang anak dengan kaum kerabat dari pihak ayah tetap sederajat dengan
perhubungannya terhadap kaum kerabat ibunya. Oleh karena ini dikenal
pepatah Jambi “Anak dipanggu kemenakan dijinjing”.
Prinsip billateral itu sesungguhnya
tidak mempunyai suatu akibat yang selektif, karena bagi setiap individu
semua kaum kerabat ibu mau pun semua kerabat kaum ayah masuk dalam
hubungan kekerabatannya. Sehingga tidak ada batas sama sekali.
Orang Melayu Jambi mayoritas adalah pemeluk agama Islam. Mereka memiliki prinsip “adat menurun, syarak mendaki, adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”, artinya "segala ketentuan yang mengatur kehidupan dalam masyarakat berasal dari budaya nenek moyang dan bersumber dari ajaran-ajaran agama, yaitu Al quran dan dan Hadits"
Dalam prinsip kekerabatan billateral Suku Melayu Jambi, garis keturunan ditarik dengan menempatkan faktor keluarga sebagai kelompok masyarakat terkecil dan menjadi basis perhitungan batas hubungan kekerabatan di antara satu sama lain.
Suatu kombinasi yang timbul dari dua prinsip yang berlainan nampak pada penentuan hak waris, terutama penyelesaian masalah hak waris. Keberadaan Islam dengan Fikh-nya yang patrilinear sebenarnya telah menggantikan keberadaan aturan adat tentang hak waris terutama di Palembang, Jambi dan pesisir Kalimantan. Namun kenyataannya tidak jarang di tengah masyarakat billateral masih ditemukan hasil musyawarah adat yang menentukan pembagian harta waris orang tua dibagi sama pada seluruh anak-anaknya.
Hukum adat Jambi berdasarkan pada “Adat Lamo Puseko Usang” yaitu “Undang” dengan “Teliti”. “Undang” yang dimaksud disini adalah peraturan adat istiadat yang berasal dari nenek moyang dan aturan-aturan yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan “Teliti” adalah peraturan adat istiadat yang telah dipengaruhi dan diperkuat oleh agama Islam.
“Undang” dan “Teliti” ini disatukan menjadi satu kesatuan sehingga menjadi adat istiadat Jambi yang berasaskan dasar : Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah. Maka kita dapat melihat bahwa hukum yang berlaku pada masyarakat Melayu Jambi adalah hukum adat terutama dalam hal kewarisan. Hal ini tidak terlepas dari ajaran Islam karena masyarakat Melayu Jambi mayoritas beragama Islam.
Hukum adat Suku Melayu Jambi adalah jika
anak yang diangkat berasal dari lingkungan keluarga sendiri, maka akan
mengakibatkan hubungan hukum anak yang diangkat tersebut dengan orang
tua kandungnya tidak terputus. Jika anak yang berasal dari lingkungan
keluarga yang berlainan agama dengan orang tua angkatnya, maka anak
tersebut setelah diangkat akan masuk kedalam agama Islam, maka secara
langsung hubungan hukumnya dengan orang tua kandungnya terputus.
Sementara dalam hukum Islam pengangkatan anak merupakan tindakan hukum yang menimbulkan akibat hukum tetapi tidak menimbulkan hubungan saling mewaris. Dan dalam peraturan perundang-undangan pengangkatan anak tidak memutuskan hubungan darah antara anak angkat dengan orang tua kandung sehingga tetap berstatus sebagai anak kandung dari orang tua kandungnya.
Replika pesawat RI 005 di Museum Perjuangan Rakyat Jambi Jl. Sultan Agung No. 12 Jambi merupakan pesawat yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Jambi mempertahankan dan melindungi Negara Kesatuan Republik Indonesia di tahun 1948. RI 005 merupakan sejenis pesawat Catalina, yaitu pesawat amfibi dengan 2 mesin baling-baling buatan Pratt & Whitney yang mampu membawa ranjau laut, aneka bom, terpedo, dan senapan mesin kaliber 50 mm. Pesawat ini pertama kali diluncurkan pada bulan Maret 1935 dan terus diproduksi hingga tahun 1940-an oleh Perusahaan Consolidated Aircraft & American Aircraft Manufactures.
Pesawat Catalina RI 005 awalnya milik seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama R.R. Cobley yang disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi untuk kepentingan perjuangan. Atas prakarsa TNI Sub Territorium Djambi (STD) disewa pesawat Catalina milik Cobley yang beregister Australia YHROP dan langsung digantinya menjadi register Indonesia RI 005. Catalina RI 005 yang sarat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia mengemban tugas menghubungi Komando Sub Territorium Djambi dengan Komandemen Sumatera di Bukittinggi, pemindahan perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, dan mengirim barang-barang dari Komandan Resimen Sub Territorium Djambi (STD) untuk kebutuhan militer Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta. Selain membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer serta sipil, pesawat ini sebagai jembatan penghubung antara Kota Jambi dan kota-kota lainnya, seperti Bukittinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Yogyakarta, dan Singapura.
Saat Kota Jambi diduduki Belanda pada 29 Desember 1948 pesawat Catalina ini belum dapat difungsikan karena mengalami kerusakan mesin dan masih berada di Sungai Batanghari. Upaya untuk memperbaiki pesawat dilakukan Cobley bersama mekanik Jon Londa dan seorang penumpang bernama Prangko dengan mencari suku cadang pesawat di Singapura. Dalam upaya memperbaiki pesawat ini, RI 005 mengalami kecelakaan, jatuh menabrak tongkang yang ditenggelamkan melintangi sungai sebagai upaya mencegah masuknya tentara Belanda ke pedalaman Jambi. Dalam kecelakaan tersebut pilot R.R Cobley dan mekanik Opsir Muda Udara John Londa tewas ikut tenggelam ke dasar Sungai Batanghari pada 28 Desember 1948.
Dalam upaya mengenang peran RI 005 dalam mempertahankan kemerdekaan dilakukan pencarian reruntuhan pesawat Catalina tersebut dari dasar Sungai Batanghari. Hasil temuan berupa sebagian patahan pesawat, seperti sayap, sebagian mesin, dan lain-lain di kedalaman lumpur Sungai Batanghari dijadikan monumen tonggak sejarah perjuangan rakyat Jambi.
READ MORE
Pesawat Catalina RI 005 awalnya milik seorang mantan penerbang RAAF (Royal Australian Air Force) bernama R.R. Cobley yang disewa oleh Dewan Pertahanan Daerah Jambi untuk kepentingan perjuangan. Atas prakarsa TNI Sub Territorium Djambi (STD) disewa pesawat Catalina milik Cobley yang beregister Australia YHROP dan langsung digantinya menjadi register Indonesia RI 005. Catalina RI 005 yang sarat dengan perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia mengemban tugas menghubungi Komando Sub Territorium Djambi dengan Komandemen Sumatera di Bukittinggi, pemindahan perwira-perwira tinggi dan menengah dari Yogyakarta, dan mengirim barang-barang dari Komandan Resimen Sub Territorium Djambi (STD) untuk kebutuhan militer Pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta. Selain membawa senjata, makanan, pakaian, dan perlengkapan militer serta sipil, pesawat ini sebagai jembatan penghubung antara Kota Jambi dan kota-kota lainnya, seperti Bukittinggi, Prapat, Banda Aceh, Tanjung Karang, Yogyakarta, dan Singapura.
Saat Kota Jambi diduduki Belanda pada 29 Desember 1948 pesawat Catalina ini belum dapat difungsikan karena mengalami kerusakan mesin dan masih berada di Sungai Batanghari. Upaya untuk memperbaiki pesawat dilakukan Cobley bersama mekanik Jon Londa dan seorang penumpang bernama Prangko dengan mencari suku cadang pesawat di Singapura. Dalam upaya memperbaiki pesawat ini, RI 005 mengalami kecelakaan, jatuh menabrak tongkang yang ditenggelamkan melintangi sungai sebagai upaya mencegah masuknya tentara Belanda ke pedalaman Jambi. Dalam kecelakaan tersebut pilot R.R Cobley dan mekanik Opsir Muda Udara John Londa tewas ikut tenggelam ke dasar Sungai Batanghari pada 28 Desember 1948.
Dalam upaya mengenang peran RI 005 dalam mempertahankan kemerdekaan dilakukan pencarian reruntuhan pesawat Catalina tersebut dari dasar Sungai Batanghari. Hasil temuan berupa sebagian patahan pesawat, seperti sayap, sebagian mesin, dan lain-lain di kedalaman lumpur Sungai Batanghari dijadikan monumen tonggak sejarah perjuangan rakyat Jambi.












